Burung misterius yang hilang dari ilmu pengetahuan selama 170 tahun ditemukan kembali di Indonesia

Foto papan buletin alis hitam ini adalah penampakan burung pertama yang dikonfirmasi dalam lebih dari 170 tahun.

Muhammad Suranto dan Muhammad Rizky Fauzan

Ada spesimen burung bicara alis hitam yang diketahui dalam catatan ilmiah. Itu dikumpulkan dan dideskripsikan pada tahun 1840-an dan sebagian besar tetap menjadi misteri sejak saat itu.

Peneliti sekarang punya dikonfirmasi penampakan papan buletin bermata hitam di Kalimantan, Indonesia, dan ada gambar untuk membuktikannya.

Para ilmuwan berterima kasih kepada penduduk setempat Muhammad Suranto dan Muhammad Rizky Fauzan, yang secara tidak sengaja menangkap burung itu saat berada di hutan. Mereka mengakui ini tidak biasa dan mengambil foto untuk dikirim ke kelompok burung sebelum mempostingnya. Foto-foto tersebut dibagikan kepada ahli burung yang melakukan identifikasi.

Gambar tersebut memungkinkan para peneliti untuk mendeskripsikan burung dan pewarnaannya dengan lebih baik serta untuk memahami wilayah asalnya. Asal spesimen asli tidak pasti karena pencatatan yang buruk.

Sebuah tim yang dipimpin oleh ahli burung Panji Gusti Akbar dengan kelompok ornitologi Indonesia Birdpacker menerbitkan a artikel burung di koran BirdingAsia (Tautan PDF) Rabu.

“Burung ini sering disebut ‘teka-teki terbesar dalam ilmu burung Indonesia’,” Gusti Akbar dalam pernyataannya tentang konservasi satwa liar global. “Sangat membingungkan untuk berpikir bahwa dia tidak punah dan masih tinggal di hutan dataran rendah itu, tapi juga sedikit menakutkan karena kita tidak tahu apakah burung-burung itu aman atau berapa lama mereka bisa bertahan hidup.”

Para ilmuwan berharap dapat melakukan perjalanan ke Kalimantan untuk mempelajari lebih lanjut burung itu dan menentukan apakah itu spesies yang terancam punah atau terancam punah. Data baru dapat digunakan untuk merekomendasikan a status papan buletin alis hitam di International Union for Conservation of Nature Red List of Threatened Species.

Butuh upaya tim untuk mempelajari lebih lanjut tentang burung langka itu. Menurut Barney Long dari Global Wildlife Conservation, “Kolaborasi antara konservasionis, komunitas lokal, dan masyarakat adat sangat penting untuk mengetahui dan menyelamatkan spesies yang sulit ditangkap ini.

READ  Fungsi plastida dalam fotosintesis, mengetahui struktur dan jenisnya
Written By
More from Faisal Hadi
Informasi tentang gempa: mag of light. gempa 4,5
Gempa berkekuatan 4,5 pada kedalaman 294 km 23 November 13:25 UTC: Pertama...
Read More
Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *