Merokok menyebabkan 10 juta orang menderita penyakit paru obstruktif kronik

Suara.com – Berdasarkan data prevalensi RISKESDAS 2013, terdapat lebih dari 10 juta orang yang hidup dengan penyakit tersebut Paru-paru Obstruksi kronis (PPOK) di Indonesia. Bahkan mayoritas hidup dengan sebuah cerita merokok atau di area polusi udara.

Spesialis Paru-Paru, Konsultan Persahabatan Asma dan PPOK RSUP, dr. Budhi Antariksa, SpP (K), Ph.D mengatakan PPOK merupakan penyakit kronis saluran udara yang ditandai dengan terhambatnya aliran udara.

“Jadi seperti tersendatnya pernapasan, terutama saat menghirup udara dan perkembangannya lambat dimana semakin parah,” kata Budhi dalam pernyataannya saat diskusi tentang penangkal penyakit. Penyakit paru di tengah pandemi Covid-19, Rabu (18/11/2020).

Selain itu, menurut dia, PPOK biasanya disebabkan oleh rokok, polusi udara di dalam dan luar ruangan. Timbulnya penyakit ini biasanya pada usia paruh baya dan sulit diatasi dengan pengobatan.

Baca juga:
Mengerikan! Tiga anak dipaksa mengemis, merokok dan mencuri di Jakarta Barat

Ilustrasi penyakit paru-paru [shutterstock]

Gejala PPOK berupa sesak napas yang meningkat seiring aktivitas dan / atau bertambah seiring bertambahnya usia yang disertai batuk berdahak atau mengalami sesak napas disertai batuk berdahak, ujarnya. .

Untuk membantu pasien COPD, Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dan Klikdokter bersama PT Kalbe Farma Tbk (Kalbe) meluncurkan media edukasi online berbasis WhatsApp dan Instagram pertama di Indonesia bernama @sepenuhnapas. .

Media ini fokus pada edukasi dan informasi kesehatan pernafasan seperti penyakit paru obstruktif kronik (PPOK), tuberkulosis (TB), asma dengan Covid-19.

Menurut manajemen produk PT Kalbe Farma Tbk Apt. Mindo Fuji Siahaan, S. Farm, bahwa pembuatan media edukasi online ini bertujuan untuk meningkatkan kesehatan demi kehidupan yang lebih baik bagi seluruh masyarakat Indonesia.

“Salah satunya melalui kegiatan penyuluhan kesehatan pernafasan yang disesuaikan dengan kebiasaan baru Covid-19 yang dapat berdampak pada kehidupan banyak orang, khususnya survivor PPOK,” ungkapnya. dia menjelaskan.

READ  Tingkat Positifitas COVID-19 di Delhi Menurun, Tingkat Pemulihan Melintasi 70%

Baca juga:
Ahli jantung: hindari merokok selama pandemi!

Edukasi kesehatan ini juga merupakan bagian dari komitmen abadi Kalbe untuk ‘Bersama untuk Kesehatan Bangsa’ dalam pilar KESEHATAN (Ilmu dan teknologi kesehatan, Ekosistem dan kelestarian lingkungan, Gaya hidup sehat dan pendidikan Kesehatan, Akses ke layanan kesehatan, Total ekosistem bisnis yang berkelanjutan).

Written By
More from Suede Nazar

Satu Tewas, 25 Takut Terjebak Setelah Gedung Maharashtra Runtuh

Runtuhnya Gedung Raigad: Operasi penyelamatan telah berlangsung selama lebih dari 12 jam....
Read More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *