Kekuatan nasional sangat penting dalam mengatasi masalah global: Menteri Pertahanan

Seperti yang dikatakan sejarawan Thucydides 2500 tahun yang lalu, yang kuat melakukan apa yang mereka bisa, yang lemah menderita apa yang harus mereka lakukan

Jakarta (ANTARA) – Menteri Pertahanan Prabowo Subianto mengatakan membangun kekuatan bangsa, baik dari segi demografi, sumber daya alam, ekonomi, politik, militer, dan pola pikir psikologis, dapat membantu membangun ketahanan terhadap tantangan global.

“Profesor Hans Joachim Morgenthau, yang dikenal sebagai profesor hubungan internasional yang realistis, (mendukung ini) kenyataan. Mereka mengatakan bahwa dalam hubungan antar negara, yang penting adalah kekuatan,” kata Prabowo dalam siaran pers di Jakarta, Selasa.

Hal itu disampaikannya dalam pidato ilmiah tentang “Mengatasi Perubahan Global dalam Dekade Mendatang” pada wisuda Universitas Pancasila di Jakarta Convention Center, Senayan, di Jakarta, Selasa, menurut siaran persnya.

Seperti yang dikatakan sejarawan Thucydides, orang kuat dapat melakukan apa pun yang mereka mampu, tambahnya.

Berita Terkait: Menteri Prabowo serahkan dokumen strategis pertahanan kepada TNI

“Seperti yang dikatakan sejarawan Thucydides 2.500 tahun yang lalu, yang kuat melakukan apa yang mereka bisa, yang lemah menderita apa yang harus mereka lakukan,” katanya.

Dia mencantumkan komponen kekuatan nasional, menekankan aspek militer, yang sangat penting.

“Apakah negara mampu mengelola, (mengarahkan) dan melatih prajurit yang baik? Kami memiliki kekayaan yang luar biasa, jadi kami membutuhkan tentara yang baik,” katanya.

Kepada para wisudawan, menteri menyebutkan kualitas-kualitas yang harus dimiliki agar berhasil.

Berita Terkait: Menkeu tegaskan perkuat kerja sama pertahanan dengan negara-negara ASEAN

Mereka yang ingin menjadi pemimpin harus menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, mengasah kecerdasan, disiplin, berpikir positif, semangat, ulet, mampu bekerja sama dan loyal, ujarnya.

READ  Waktu Petualangan - Eos

“(Mimpi) setinggi langit. Kalaupun harus jatuh, akan jatuh di antara bintang-bintang,” ujarnya mengutip ucapan Presiden pertama Indonesia, Soekarno.

Selanjutnya secara simbolis ia menyerahkan 1.200 eksemplar buku berjudul Paradoks Indonesia (paradoks Indonesia) dan Kepemimpinan Militan: Catatan Pengalaman Letnan Jenderal TNI (Purn.) Prabowo Subianto (Kepemimpinan Militer: Catatan Pengalaman Letjen Prabowo Subianto) kepada lulusan.

Rektor Universitas Pancasila, Edie Toet Hendratno; Presiden Yayasan Pendidikan dan Pembina Universitas Pancasila (YPPUP), Siswono Yudo Husodo; dan Ketua Badan Pembina Yayasan Pendidikan dan Pembina, Jenderal Agum Gumelar, turut hadir dalam acara tersebut.

Berita Terkait: Presiden dan Menlu Saudi Bahas Pelaksanaan Ibadah Haji

Berita Terkait: RI mengutuk keras pernyataan staf BJP yang berkuasa di India terhadap Nabi

Written By
More from Faisal Hadi
Pulau Sulawesi di Indonesia adalah teka-teki yang berkembang
Terbentang di tiga lempeng benua yang berbeda dan melengkung seperti bintang laut...
Read More
Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *